عَنْ أَبِي قَتَادَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا يُمْسِكَنَّ أَحَدُكُمْ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ وَهُوَ يَبُولُ، وَلَا يَتَمَسَّحْ مِنَ الْخَلَاءِ بِيَمِينِهِ، وَلَا يَتَنَفَّسْ فِي الْإِنَاءِ».
Abu Qatādah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Jangan sekali-kali salah seorang di antara kalian memegang kemaluannya dengan tangan kanan ketika buang air kecil, jangan membersihkan bekas kotoran (istinja) dengan tangan kanan, dan jangan pula bernapas dalam bejana."
1- Menerangkan keterdepanan Islam dalam persoalan adab dan kebersihan.
2- Menjauhi perkara-perkara kotor, namun jika terpaksa menyentuhnya, maka hendaklah dengan tangan kiri.
3- Menerangkan kemuliaan dan keutamaan tangan kanan atas tangan kiri.
4- Kesempurnaan syariat Islam dan keuniversalan ajarannya.
عن عبد الله بن مغفل رضي الله عنهما قال: نَهَى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الخَذْف، وقال: «إِنَّه لاَ يَقتُلُ الصَّيدَ، ولاَ يَنْكَأُ العَدُوَّ، وإِنَّهُ يَفْقَأُ العَيْنَ، ويَكسِرُ السِّنَ».
وفي رواية: أن قَرِيباً لابن مغفل خَذَفَ فنَهَاه، وقال: إن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى عن الخَذْفِ، وقال: «إِنَّهَا لاَ تَصِيدُ صَيداً» ثم عاد، فقال: أُحَدِّثُك أنَّ رسول الله نهى عنه، ثم عُدتَ تَخذِفُ! لا أُكَلِّمُكَ أَبَداً.
Dari Abdullah bin Mugaffal -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang berburu dengan ketapel seraya bersabda, "Sesungguhnya ketapel tidak bisa membunuh hewan buruan dan tidak bisa melukai musuh. Namun bisa membutakan mata dan mematahkan gigi." Dalam riwayat lain, "Sesungguhnya seorang kerabat Ibnu Mugaffal pernah berburu dengan ketapel. Lalu dia melarangnya dan berkata, "Sesungguhnya Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang berburu dengan ketapelm, dan beliau bersabda, "Sesungguhnya ketapel tidak bisa membunuh hewan buruan." Tetapi dia mengulanginya lagi. Maka Ibnu Mugaffal berkata, "Aku telah memberitahukan kepadamu bahwa Rasulullah melarang berburu dengan ketapel, tetapi engkau mengulanginya lagi. Aku tidak akan berbicara kepadamu selamanya!"
عن عبد الله بن عباس رضي الله عنه قال: «شَهِد عِندِي رِجَال مَرْضِيُون - وأَرْضَاهُم عِندِي عُمر- أنَّ النَبِي صلى الله عليه وسلم نَهَى عن الصَّلاة بَعد الصُّبح حتَّى تَطلُعَ الشَّمسُ، وبعد العصر حتَّى تَغرُب».
وعن أبي سعيد رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال: «لا صَلاَة بعد الصُّبح حتَّى تَرتَفِعَ الشَّمسُ، ولا صَلاَة بعد العَصرِ حتَّى تَغِيبَ الشَّمس».
Dari Abdullah bin 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Telah bersaksi di sisiku orang-orang yang diridai -dan Umar adalah orang yang paling aku ridai- bahwa Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang salat setelah Subuh sampai terbit matahari, dan setelah Asar sampai terbenam matahari."
Dari Abu Sa'īd -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwasannya beliau bersabda, "Tidak ada salat setelah Subuh hingga matahari meninggi, dan tidak ada salat setelah Aṣar hingga matahari terbenam."
عن شقيق بن سلمة رحمه الله قال: كان ابن مسعود رضي الله عنه يُذَكِّرُنا في كل خميس، فقال له رجل: يا أبا عبد الرحمن، لَوَدِدْتُ أنك ذَكَّرْتَنا كل يوم، فقال: أما إنه يمنعني من ذلك أني أكره أن أُمِلَّكُم، وإني أَتَخَوَّلُكُم بالمَوْعِظَةِ، كما كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يَتَخَوَّلُنَا بها مَخَافَةَ السَّآمَةِ علينا.
Dari Syaqīq bin Salamah –raḥimahullāhu-, ia berkata, dahulu Ibnu Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu- menasehati kami setiap hari kamis. Lalu seorang laki-laki berkata kepadanya, "Wahai Abu Abdirrahman, sungguh aku sangat menginginkan engkau menasehati kami setiap hari." Dia pun berkata, "Sesungguhnya yang mencegahku untuk melakukan hal tersebut adalah karena aku tidak ingin membuat kalian merasa bosan, sehingga aku menyampaikan nasehat kepada kalian secara berkala, sebagaimana Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyampaikannya kepada kami dengan cara demikian karena khawatir kami merasa bosan."
عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما مرفوعاً: «ليس منا من لم يَرحمْ صغيرنا، ويَعرفْ شَرَفَ كبيرنا».
Dari Abdullah bin 'Amru bin al-'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhumā- secara marfū, "Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi anak kecil di antara kami dan tidak mengetahui kemuliaan orang tua di antara kami."
عن يزيد بن حيان قال: انطلقت أنا وحُصين بن سَبْرَة وعمرو بن مسلم إلى زيد بن أرقم رضي الله عنه فلما جلسنا إليه قال له حصين: لقد لقيتَ يا زيد خيرًا كثيرًا، رأيتَ رسول الله صلى الله عليه وسلم وسمعتَ حديثه، وغزوتَ معه، وصليتَ خلفه: لقد لقيت يا زيد خيرًا كثيرًا، حدثنا يا زيد ما سمعت من رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: يا ابن أخي، والله لقد كَبِرَتْ سني، وقَدُمَ عهدي، ونسيتُ بعض الذي كنت أَعِي من رسول الله صلى الله عليه وسلم فما حدثتكم فاقبلوا، وما لا فلا تُكَلِّفُونِيهِ. ثم قال: قام رسول الله صلى الله عليه وسلم يومًا فينا خطيبًا بماء يُدعى خُمًّا بين مكة والمدينة، فحمد الله، وأثنى عليه، ووعظ وذكَّر، ثم قال: «أما بعد، ألا أيها الناس، فإنما أنا بشر يُوشِكُ أن يأتي رسول ربي فأُجِيبَ، وأنا تاركٌ فيكم ثَقَلَيْنِ: أولهما كتاب الله، فيه الهدى والنور، فخذوا بكتاب الله، واستمسكوا به»، فحَثَّ على كتاب الله، ورغَّبَ فيه، ثم قال: «وأهل بيتي أُذَكِّرُكُمُ اللهَ في أهل بيتي، أُذَكِّرُكُمُ اللهَ في أهل بيتي» فقال له حصين: ومن أهل بيته يا زيد، أليس نساؤه من أهل بيته؟ قال: نساؤه من أهل بيته، ولكن أهل بيته من حُرِمَ الصدقةَ بعده، قال: ومن هم؟ قال: هم آل علي، وآل عقيل، وآل جعفر، وآل عباس. قال: كل هؤلاء حُرِمَ الصدقةَ؟ قال: نعم.
وفي رواية: «ألا وإني تاركٌ فيكم ثَقَلَيْنِ: أحدهما كتاب الله وهو حبل الله، من اتبعه كان على الهدى، ومن تركه كان على ضلالة».
Dari Yazīd bin Ḥayyān, ia berkata, “Aku pergi ke Zaid bin Arqam -raḍiyallāhu 'anhu- bersama Ḥuṣain bin Sabrah dan 'Amr bin Muslim. Setelah kami duduk, Ḥuṣain berkata kepada Zaid bin Arqam, “Wahai Zaid, engkau telah memperoleh kebaikan yang banyak. Engkau telah melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, engkau mendengar sabda beliau, engkau bertempur menyertai beliau, dan engkau telah salat di belakang beliau. Sungguh, engkau telah memperoleh kebaikan yang banyak wahai Zaid. Oleh karena itu, sampaikanlah kepada kami apa yang engkau dengar dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.“ Zaid bin Arqam berkata, “Wahai keponakanku, demi Allah, aku ini sudah tua dan ajalku sudah semakin dekat. Aku sudah lupa sebagian dari apa yang aku dengar dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Apa yang bisa aku sampaikan kepadamu maka terimalah, dan apa yang tidak bisa aku sampaikan kepadamu janganlah engkau memaksaku untuk menyampaikannya.” Kemudian Zaid bin Arqam mengatakan, “Pada suatu hari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berdiri ke arah kami menyampaikan khutbah di suatu tempat (persinggahan) yang memiliki air bernama Khum yang terletak antara Mekkah dan Madinah. Beliau memuji Allah, kemudian menyampaikan nasihat dan peringatan, lalu beliau bersabda, “Ammā ba’d. Ketahuilah wahai saudara-saudara sekalian, bahwa aku adalah manusia seperti kalian. Sebentar lagi utusan Rabb-ku (yaitu malaikat pencabut nyawa) akan datang lalu aku memperkenankannya. Aku akan meninggalkan untuk kalian aṡ-ṡaqalain (dua hal yang berat), yaitu: Pertama, Kitabullah yang padanya berisi petunjuk dan cahaya, karena itu ambillah ia (yaitu laksanakan kandungannya) dan berpegang teguhlah kalian kepadanya!” Beliau lantas menghimbau serta memotivasi pengamalan Kitabullah. Kemudian beliau melanjutkan, “(Kedua), dan Ahli Bait-ku. Aku ingatkan kalian akan Allah terhadap Ahli Bait-ku, aku ingatkan kalian akan Allah terhadap Ahli Bait-ku.” Ḥuṣain bertanya kepada Zaid bin Arqam, “Wahai Zaid, siapakah Ahli Bait Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-? Bukankah istri-istri beliau adalah ahlul-baitnya?” Zaid bin Arqam menjawab, “Istri-istri beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memang Ahli Bait-nya, namun Ahli Bait (yang dimaksud) beliau adalah semua (keluarganya) yang diharamkan menerima zakat sepeninggal beliau.” Ḥuṣain berkata, “Siapakah mereka itu?” Zaid menjawab, “Mereka adalah keluarga Ali, keluarga 'Aqīl, keluarga Ja’far, dan keluarga Abbas.” Ḥuṣain berkata, “Apakah mereka semua itu diharamkan menerima zakat?” Zaid menjawab, “Ya.” Dalam riwayat lain disebutkan: “Ketahuilah sesungguhnya aku telah meninggalkan untuk kalian dua perkara yang sangat besar. Salah satunya adalah Alquran dan ia adalah tali (agama) Allah yang kokoh, barang siapa mengikuti petunjuknya maka dia akan mendapat petunjuk, dan barang siapa meninggalkannya maka dia akan tersesat.”
عن النعمان بن بشير رضي الله عنه مرفوعاً: «لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُم أو لَيُخَالِفَنَّ الله بين وُجُوهِكُم».
وفي رواية: «كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يُسَوِّي صُفُوفَنَا، حتى كَأَنَّمَا يُسَوِّي بها القِدَاح، حتَّى إِذَا رأى أَنْ قد عَقَلْنَا عَنهُ، ثم خَرَج يومًا فَقَام، حتَّى إِذَا كاد أن يُكَبِّرُ، فَرَأَى رَجُلاً بَادِيًا صَدرُهُ، فقال: عِبَادَ الله، لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُم أو لَيُخَالِفَنَّ الله بين وُجُوهِكُم».
Dari Nu'mān bin Basyīr -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Hendaknya kalian meluruskan saf kalian (ketika salat) atau Allah akan menimpakan perselisihan di antara kalian." Dalam riwayat lain disebutkan, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meluruskan saf-saf kami hingga seolah-olah beliau meluruskan anak panah sampai beliau melihat kami sudah memahami apa yang diperintahkannya. Lantas suatu hari beliau keluar lalu berdiri hingga ketika hampir bertakbir, tiba-tiba beliau melihat seorang lelaki membusungkan dadanya, beliau bersabda, "Wahai hamba Allah, hendaknya kalian meluruskan barisan-barisan kalian atau Allah akan menimpakan perselisihan di antara kalian."
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «أَمَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ - أَوْ: لاَ يَخْشَى أَحَدُكُمْ - إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلَ الإِمَامِ، أَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ، أَوْ يَجْعَلَ اللَّهُ صُورَتَهُ صُورَةَ حِمَارٍ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Tidakkah salah seorang kalian takut bila dia mengangkat kepalanya sebelum imam, Allah mengubah kepalanya menjadi kepala keledai atau Allah menjadikan rupanya seperti rupa keledai?!"
1- Makmum memiliki empat keadaan bersama imam; tiga dilarang, yaitu mendahului, membersamai, dan sangat terlambat. Yang disyariatkan bagi makmum ialah mengikuti imam.
2- Kewajiban makmum mengikuti imam dalam salat.
3- Ancaman berupa mengubah rupa orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam menjadi rupa keledai adalah perkara yang mungkin, dan itu termasuk maskh (perubahan rupa).
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ السَّاعَةِ، فَقَالَ: مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ: «وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا». قَالَ: لاَ شَيْءَ، إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: «أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ». قَالَ أَنَسٌ: فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ، فَرِحْنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ» قَالَ أَنَسٌ: فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّي إِيَّاهُمْ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ.
Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Seorang arab badui bertanya kepada Nabi ﷺ tentang hari Kiamat. Dia berkata, "Kapan hari Kiamat akan terjadi?" Beliau ﷺ bersabda, "Apa yang telah engkau siapkan untuk hari Kiamat?" Orang itu menjawab, "Tidak ada. Hanya saja aku mencintai Allah dan Rasul-Nya ﷺ." Beliau bersabda, "Engkau akan bersama orang yang engkau cintai." Anas berkata, "Belum pernah kami bahagia dengan sesuatu seperti bahagianya kami dengan sabda Nabi ﷺ, 'Engkau bersama orang yang engkau cintai.'" Anas melanjutkan, "Sungguh aku mencintai Nabi ﷺ, Abu Bakar dan Umar. Aku berharap akan bersama mereka dengan sebab kecintaanku pada mereka sekalipun aku belum beramal semisal amal mereka."
1- Sifat bijaksana Rasulullah ﷺ dalam menjawab si penanya, yaitu beliau mengarahkannya pada sesuatu yang ia butuhkan dan dapat menyelamatkannya, yaitu mempersiapkan diri untuk akhirat dengan urusan yang bermanfaat dan amal saleh.
2- Allah merahasiakan ilmu tentang waktu Kiamat dari semua hamba agar setiap orang tetap siap sedia untuk menghadap Allah.
3- Keutamaan mencintai Allah, Rasulullah, dan orang-orang mukmin yang saleh, serta peringatan dari mencintai orang-orang musyrik.
4- Sabda beliau ﷺ: "Engkau akan bersama orang yang engkau cintai", bukan bermakna memiliki kesetaraan dalam tingkat dan kedudukan, tetapi maksudnya adalah mereka semua bersama di dalam surga, masing-masing dapat melihat yang lain walaupun tempatnya berjauhan.
5- Mengarahkan seorang muslim agar menyibukkan diri dengan perkara yang lebih bermaslahat dan bermanfaat serta tidak mempertanyakan sesuatu yang tidak berguna.
عن عَائِشَةَ رضيَ الله عنها قالت: إِنِّي سمعْتُ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم يقول: «لَا صَلَاةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ، وَلَا هُوَ يُدَافِعُهُ الْأَخْبَثَانِ».
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak (sempurna) salat ketika makanan telah dihidangkan ataupun sambil menahan keinginan buang air kecil dan besar."
Seorang yang salat harus menyingkirkan semua yang akan menyibukkannya di dalam salatnya sebelum masuk ke dalamnya.