عن عمران بن حصين رضي الله عنهما قال: «أُنْزِلَت آيَةُ المُتْعَةِ في كتاب اللَّه تعالى ، فَفَعَلْنَاهَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ، وَلَم يَنْزِلْ قُرْآنٌ يُحَرِّمُهَا، وَلَم يَنْهَ عَنهَا حَتَّى مات، قال رجل بِرَأْيِهِ مَا شَاءَ»، قال البخاري: «يقال إنه عمر».
وفي رواية: « نَزَلَت آيَةُ المُتْعَةِ -يَعْنِي مُتْعَةَ الحَجِّ- وَأَمَرَنا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ، ثُمَّ لَم تَنْزِل آيَةٌ تَنْسَخُ آيَةَ مُتْعَةِ الْحَجِّ، وَلَمْ يَنْهَ عَنْهَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم حَتَّى مَاتَ». ولهما بمعناه.
Dari ‘Imrān bin Huṣain -raḍiyallāhu 'anhumā- ia berkata, “Ayat tentang mut‘ah (haji tamattu') diturunkan dalam Kitabullah, maka kami melakukannya bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan tidak turun dalam Al-Qur`ān pengharamannya, tidak pula beliau melarangnya hingga wafat, lalu seorang laki-laki mengatakan berdasarkan pendapatnya apa yang ia kehendaki.” Al-Bukhari berkata, “Dikatakan bahwa dia adalah Umar.” Dan di dalam suatu riwayat disebutkan, “Ayat tentang mut’ah turun -yakni haji tamattu’- dan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkan kami untuk melakukannya, kemudian tidak ada satu ayat pun yang menasakhkan ayat tentang haji tamattu’ dan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak pernah melarangnya sampai beliau wafat."
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قِيلَ: يا رسُول الله، مَن أَكرم النَّاس، قال: اتقاهم، فقالوا: لَيس عن هذا نَسأُلُك، قال: «فَيُوسُفُ نَبِيُّ الله ابنُ نَبِيِّ الله ابنِ نَبِيِّ الله ابنِ خَلِيلِ اللهِ» قالوا: لَيس عَن هذا نَسأَلُك، قال: «فعَن مَعَادِن العَرَب تسأَلُوني؟ خِيَارُهُم في الجاهِليَّة خِيَارُهُم في الإِسلام إذا فَقُهُوا».
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Ada yang bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah manusia paling mulia?" Beliau menjawab, "Orang yang paling bertakwa dari mereka." Mereka berkata, "Bukan itu yang kami tanyakan." Beliau bersabda, "Kalau begitu, manusia yang paling mulia adalah Yusuf Nabi Allah, putra dari Nabi Allah, cucu dari Nabi Allah, putra dari kekasih Allah (Ibrahim)." Mereka berkata, "Bukan itu yang kami tanyakan." Beliau bersabda, "Apakah kalian bertanya kepadaku tentang orang-orang berkualitas dari kalangan bangsa Arab? Sesungguhnya orang-orang terbaik dari mereka di masa jahiliyah adalah orang-orang yang terbaik di masa Islam jika mereka memahami (Islam)."
عن عبد الله بن زمعة رضي الله عنه أنّه سمع النبي صلى الله عليه وسلم يخطب، وذكر الناقة والذي عقرها، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «إذِ انبَعَثَ أشقاها: انْبَعَثَ لَهَا رجل عزِيز، عَارِم منيع في رَهطِه»، ثم ذكر النساء، فوعظ فيهنَّ، فقال: «يَعمِد أحدكم فيجلد امرأته جلد العبد، فلعلَّه يُضَاجِعُهَا من آخر يومه» ثمَّ وعظهم فِي ضَحِكِهم من الضَّرطَة، وقال: «لم يضحك أحدكم ممَّا يفعل؟!».
Dari Abdulllah bin Zam'ah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa ia mendengar Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berkhutbah. Beliau menyebutkan unta (Nabi saleh) dan orang yang menyembelihnya. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengucapkan, "Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka, yaitu seorang laki-laki yang perkasa, jahat perangainya dilindungi oleh kaumnya." Kemudian beliau menyebut kaum wanita, beliau menasehati terkait diri mereka. Beliau bersabda, "Salah seorang dari kalian marah lalu mendera istrinya seperti mendera budak, padahal boleh jadi ia menggaulinya di penghujung hari." Kemudian beliau menasehati mereka terkait tawa mereka karena kentut, beliau bersabda, "Mengapa salah seorang kalian menertawakan apa yang ia (sendiri juga) lakukan?".
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي لله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً، إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ» أَوْ قَالَ: «غَيْرَهُ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Janganlah seorang laki-laki mukmin membenci wanita mukminah! Jika ia tidak menyukai satu perangai wanita itu, tentunya ia menyukai perangainya yang lain."
1- Ajakan kepada orang beriman agar bersikap adil dan menggunakan akal di dalam setiap perselisihan dengan istrinya dan tidak mengikuti perasaan dan emosi sesaat.
2- Sikap seorang laki-laki mukmin ialah tidak membenci istrinya secara total yang akan membuatnya menceraikannya, tetapi yang sepatutnya ialah ia menutup mata dari sikap istrinya yang tidak dia sukai dengan membandingkannya dengan sikap yang dia sukai.
3- Anjuran untuk bergaul dan berinteraksi secara baik antara suami istri.
4- Keimanan mengajak kepada akhlak mulia, sehingga laki-laki mukmin dan wanita mukminah pasti memiliki suatu akhlak baik, karena keimanan akan melahirkan perangai-perangai yang terpuji dalam diri mereka.
عن أبي جَمرة -نصر بن عمران الضُّبَعي- قال: «سألت ابن عباس عن المُتْعَةِ؟ فأمرني بها، وسألته عن الهَدْيِ؟ فقال: فيه جَزُورُ، أو بقرةٌ، أو شَاةٌ، أو شِرْكٌ في دم، قال: وكان ناس كرهوها، فنمت، فرأيت في المنام: كأن إنسانا ينادي: حَجٌّ مَبْرُورٌ، ومُتْعَةٌ مُتَقَبَّلَةٌ. فأتيت ابن عباس فحدثته، فقال: الله أكبر! سُنَّةُ أبي القاسم صلى الله عليه وسلم ».
Dari Abu Jamrah –Naṣr bin Imrān Aḍ-Ḍuba'iy-, ia berkata, “Aku bertanya kepada Ibnu Abbas tentang haji tamattu', lalu dia menyuruhku untuk melakukannya. Dan aku bertanya kepadanya tentang hadyu (sembelihan), dia menjawab, “hadyu (boleh berupa) jazūr (unta), sapi, domba atau ikut bergabung dalam sembelihan tujuh orang. Dia (Abu Jamrah) berkata, “Orang-orang tidak menyukai pelaksanaan haji dengan cara tamattu'”. Kemudian akupun tertidur dan bermimpi seakan ada seseorang yang memanggil seraya berkata, “Haji yang mabrur dan tamattu' yang diterima”, lalu aku bergegas mendatangi Ibnu Abbas dan aku sampaikan hal tersebut. Kemudian dia berkata, "Allahu Akbar, sunnahnya Abul Qāsim -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-."
عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه أَنَّهُ تَوَضَّأ في بيتِهِ، ثُمَّ خَرَج، فقَال: لَأَلْزَمَنَّ رسُول الله صلى الله عليه وسلم ولَأَكُونَنَّ مَعَهُ يَومِي هَذَا، فَجَاءَ الْمَسْجِدَ، فَسَألَ عَنِ النبيِّ -صلَّى الله عليه وسلَّم- فَقَالُوا وَجَّهَ هَاهُنَا، قال: فَخَرَجْتُ عَلَى أَثَرِهِ أَسأَلُ عنْهُ، حتَّى دخَلَ بِئْرَ أَرِيسٍ، فَجَلَستُ عِندَ البَابِ حتَّى قَضَى رسُولُ الله -صلَّى الله عليه وسلَّم- حَاجَتَهُ وَتَوَضَّأ، فَقُمتُ إِلَيهِ، فَإِذَا هُوَ قَدْ جَلَسَ عَلَى بِئْرِ أَرِيسٍ وَتَوَسَّطَ قُفَّهَا، وكَشَفَ عَنْ سَاقَيهِ وَدلَّاهُمَا فِي البِئرِ، فَسَلَّمتُ علَيه ثُمَّ انْصَرَفْتُ، فَجَلَسْتُ عِند البَابِ، فقُلتُ: لأَكُونَنَّ بَوَّابَ رسُول الله -صلَّى الله عليه وسلَّم- اليَومَ، فجَاءَ أَبُو بَكر -رضِيَ الله عنْهُ- فَدَفَعَ البَابَ، فقُلتُ: مَنْ هَذَا؟ فَقَالَ: أَبُو بَكْرٍ، فقُلتُ: عَلَى رِسْلِكَ، ثُمَّ ذَهَبتُ، فَقُلْتُ: يَا رسُولَ الله، هَذَا أبُو بكرٍ يَسْتَأذِنُ، فقَالَ: «ائْذَنْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالجَنَّةِ» فَأَقْبَلْتُ حتَّى قُلتُ لَأَبِي بَكْرٍ: ادْخُلْ وَرَسُولُ الله -صلَّى الله عليه وسلَّم- يُبَشِّرُكَ بِالْجَنَّةِ، فَدَخَلَ أَبُو بَكرٍ حَتَّى جَلَسَ عَن يَمِينِ النبيِّ -صلَّى الله عليه وسلَّم- مَعَهُ فِي القُفِّ، ودَلَّى رِجْلَيهِ فِي البِئْرِ كَمَا صَنَعَ رَسُولُ الله -صلَّى الله عليه وسلَّم- وَكَشَفَ عَنْ سَاقَيهِ، ثُمَّ رَجَعْتُ وَجَلَسْتُ، وَقَدْ تَرَكْتُ أَخِي يَتَوَضَّأ وَيَلْحَقُنِي، فَقُلْتُ: إِنْ يُرِدِ اللهُ بِفُلاَنٍ - يُريِدُ أَخَاهُ - خَيرًا يَأتِ بِهِ، فَإِذَا إِنسَانٌ يُحَرِّكُ البَّابَ، فقُلتُ: مَنْ هَذَا؟ فقَالَ: عُمَرُ بن الخَطَّابِ، فقُلتُ: عَلَى رِسْلِكَ، ثُمَّ جِئْتُ إِلَى رسُول الله -صلَّى الله عليه وسلَّم- فَسَلَّمْتُ عَلَيهِ وقُلْتُ: هَذَا عُمَرُ يَسْتَأْذِنُ؟ فَقَال: «ائْذَنْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالجَنَّةِ» فَجِئْتُ عُمَرَ، فَقُلتُ: أَذِنَ وَيُبَشِّرُكَ رَسُولُ الله -صلَّى الله عليه وسلَّم- بِالجَنَّةِ، فَدَخَلَ فَجَلَسَ مَعَ رسُولِ الله -صلَّى الله عليه وسلَّم- فِي القُفِّ عَنْ يَسَارِهِ وَدَلَّى رِجْلَيهِ فِي البِئْرِ، ثُمَّ رَجَعْتُ فَجَلَسْتُ، فَقُلتُ: إِن يُرِدِ اللهُ بِفُلاَنٍ خَيرًا -يعنِي أَخَاهُ- يَأتِ بِهِ، فَجَاءَ إِنسَانٌ فَحَرَّكَ البَابَ، فقُلتُ: مَنْ هَذَا؟ فقَالَ: عُثمَانُ بنُ عَفَّان، فقُلتُ: عَلَى رِسْلِكَ، وَجِئتُ النبِيَّ -صلَّى الله عليه وسلَّم- فَأَخبَرتُهُ، فقَالَ: «ائْذَنْ لَهُ وَبَشِّرهُ بِالجَنَّةِ مَعَ بَلوَى تُصِيبُهُ» فَجِئتُ، فقُلتُ: ادْخُل وَيُبَشِّرُكَ رسُول الله -صلَّى الله عليه وسلَّم- بِالجَنَّةِ مَعَ بَلوَى تُصِيبُكَ، فَدَخَلَ فَوَجَدَ القُفَّ قَدْ مُلِئَ، فَجَلَسَ وِجَاهَهُم مِنَ الشِقِّ الآخَرِ.
قال سعيد بنُ الْمُسَيِّبِ: فَأَوَّلْتُهَا قُبُورَهُم.
وزاد في رواية: وَأَمَرَنِي رسُول الله -صلَّى الله عليه وسلَّم- بِحفظِ البابِ، وفيها: أنَّ عُثمَانَ حِينَ بَشَّرَهُ حَمِدَ الله -تَعَالَى-، ثُمَّ قَالَ: اللهُ الْمُسْتَعَانُ.
Dari Abu Musa Al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa ia berwudu di rumahnya kemudian keluar. Lalu ia berkata, "Aku akan menemani Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan aku akan bersamanya di hariku ini." Lantas ia mendatangi masjid lalu menanyakan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Orang-orang menjawab, "Beliau keluar ke arah sana." Ia berkata, "Aku pun keluar mengejarnya, aku menanyakannya sampai beliau masuk ke sumur Arīs. Aku duduk di dekat pintu hingga Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyelesaikan keperluannya dan berwudu. Aku pun berdiri menghampiri beliau. Ternyata beliau sedang duduk di atas sumur Arīs, di tengah-tengah tepinya. Beliau menyingkapkan kedua betisnya dan menjulurkan keduanya ke dalam sumur. Aku mengucapkan salam kepada beliau lalu kembali lagi duduk di dekat pintu. Aku berkata, "Aku akan menjadi penjaga pintu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- hari ini. Lantas datang Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- lalu ia mendorong pintu. Aku bertanya, "Siapa ini?" Ia menjawab, "Abu Bakar." Aku katakan, "Sebentar." Selanjutnya aku pergi (menemui Nabi) lalu aku katakan, "Wahai Rasulullah, ini Abu Bakar datang meminta izin (masuk)." Beliau bersabda, "Izinkan dia dan berilah kabar gembira berupa Surga untuknya." Lalu aku datang menghampirinya hingga aku berkata kepada Abu Bakar, "Masuklah, dan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberimu kabar gembira berupa Surga." Abu Bakar masuk lalu duduk di samping kanan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di tepi sumur dan menjulurkan kedua kakinya ke dalam sumur seperti yang dilakukan oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- serta menyingkapkan kedua betisnya. Kemudian aku kembali ke tempat dan duduk, dan aku membiarkan saudaraku berwudu serta menyusulku. Aku berkata, "Jika Allah menghendaki kebaikan untuk seseorang -yaitu saudaranya- Dia pasti mendatangkannya. Tiba-tiba ada seseorang menggerak-gerakkan pintu. Aku pun bertanya, "Siapa ini?" Ia menjawab, "Umar bin Al-Khaṭṭāb." Aku berkata, "Sebentar." Kemudian aku mendatangi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu mengucapkan salam kepadanya dan berkata, "Ini Umar meminta izin." Beliau bersabda, "Berilah ia izin dan berilah ia kabar gembira berupa Surga." Aku pun mendatangi Umar lalu berkata, "Beliau telah memberi izin dan memberimu kabar gembira berupa Surga." Lantas Umar masuk lalu duduk bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di tepi sumur, di sebelah kiri beliau, dan menjulurkan kedua kakinya ke dalam sumur. Selanjutnya aku kembali dan duduk. Aku berkata, "Jika Allah menghendaki kebaikan untuk seseorang -maksudnya saudaranya- pasti Dia mendatangkannya. Tiba-tiba datang seseorang lalu menggerak-gerakkan pintu. Aku pun bertanya, "Siapa ini?" Ia menjawab, "Uṡmān bin 'Affān." Aku berkata, "Sebentar." Aku mendatangi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu mengabarkan kedatangannya kepada beliau. Beliau bersabda, "Berilah ia izin dan berilah ia kabar gembira berupa Surga beserta bencana yang menimpanya." Aku pun mendatangi Uṡmān lalu berkata, "Masuklah dan beliau memberimu kabar gembira berupa Surga beserta bencana yang akan menimpamu." Uṡmān masuk dan mendapati tepi sumur sudah penuh, maka dia pun duduk di hadapan mereka di sisi lainnya." Sa'īd bin Al-Musayyab berkata, "Aku menakwilkannya sebagai posisi kubur mereka." Dalam sebuah riwayat, Abu Musa menambahkan, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkanku untuk menjaga pintu." Dalam riwayat itu disebutkan bahwa ketika Uṡmān diberi kabar gembira tersebut, dia memuji Allah -Ta'ālā- lalu berkata, "Allah tempat meminta pertolongan."
عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه مرفوعاً: « المَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ ».
وفي رواية: قِيلَ لِلنبي صلى الله عليه وسلم : الرَّجُلُ يُحِبُّ القَوْمَ وَلَمَّا يَلْحَق بهم؟ قال: « المَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ».
عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: جاء رجل إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله، كَيفَ تَقُولُ فِي رَجُلٍ أحَبَّ قَومًا ولم يَلحَق بِهم؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «المَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ».
Dari Abu Musa al-Asy`ari -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Seseorang itu bersama orang yang dicintainya." Dalam riwayat lain disebutkan: "Bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah ditanya, "Seseorang mencintai suatu kaum, padahal dia belum pernah bertemu dengan mereka?" Beliau bersabda, "Seseorang itu bersama orang yang dicintainya." Dari Abdullah bin Mas`ud -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu mengenai seseorang yang mencintai suatu kaum, padahal dia belum pernah bertemu dengan mereka?" Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawab, "Seseorang itu bersama orang yang dicintainya."
عَنْ حُذَيْفَةَ رضي الله عنه قَالَ: كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَانْتَهَى إِلَى سُبَاطَةِ قَوْمٍ، فَبَالَ قَائِمًا، فَتَنَحَّيْتُ فَقَالَ: «ادْنُهْ» فَدَنَوْتُ حَتَّى قُمْتُ عِنْدَ عَقِبَيْهِ فَتَوَضَّأَ فَمَسَحَ عَلَى خُفَّيْهِ.
Ḥużaifah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Aku pernah bersama Nabi ﷺ, lalu beliau pergi ke tempat pembuangan sampah suatu kaum lalu beliau kencing berdiri, sehingga aku pun menjauh. Beliau bersabda, "Mendekatlah." Aku pun mendekat sampai berdiri di sisi kedua tumit beliau, lalu beliau berwudu dan mengusap kedua khuff beliau.
1- Pensyariatan mengusap kedua khuff dalam berwudu.
2- Boleh kencing berdiri dengan syarat jangan sampai terkena air kencing walaupun sedikit.
3- Nabi ﷺ memilih subāṭah, yaitu tempat sampah, karena biasanya tempat seperti itu tidak keras sehingga air kencing yang jatuh tidak terciprat kepada orang yang kencing.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضيَ اللهُ عنه: أَنَّهُ لَقِيَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي طَرِيقٍ مِنْ طُرُقِ الْمَدِينَةِ وَهُوَ جُنُبٌ، فَانْسَلَّ فَذَهَبَ فَاغْتَسَلَ، فَتَفَقَّدَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا جَاءَهُ قَالَ: «أَيْنَ كُنْتَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ؟» قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، لَقِيتَنِي وَأَنَا جُنُبٌ فَكَرِهْتُ أَنْ أُجَالِسَكَ حَتَّى أَغْتَسِلَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «سُبْحَانَ اللهِ، إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَا يَنْجُسُ».
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah berpapasan dengannya di salah satu jalan kota Madinah, sementara saat itu dia sedang junub. Maka ia pun menyelinap pergi untuk mandi. Nabi ﷺ lalu mencarinya. Ketika ia kembali, beliau bertanya, "Ke mana saja engkau, wahai Abu Hurairah?" Ia menjawab, "Wahai Rasulullah, tadi engkau bertemu denganku sementara aku sedang junub, maka aku tidak ingin duduk bersamamu sebelum mandi." Lantas beliau bersabda, "Subḥānallāh. Sesungguhnya orang mukmin itu tidak najis."
1- Keadaan junub hanya menghalangi seseorang dari melaksanakan salat, menyentuh mushaf, dan berdiam diri di dalam masjid. Namun, tidak menghalangi untuk duduk bersama kaum muslimin dan bertemu dengan mereka. Seseorang yang sedang junub tidak menjadi bernajis karenanya.
2- Orang beriman tetap suci ketika hidup dan setelah mati.
3- Memuliakan orang-orang mulia, berilmu, dan saleh serta duduk bersama mereka dalam keadaan yang paling baik.
4- Seorang pengikut disyariatkan untuk meminta izin kepada pemimpin sebelum meninggalkan majelis. Nabi ﷺ telah menegur Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhu- lantaran pergi tanpa sepengetahuannya, karena meminta izin merupakan bagian dari adab yang baik.
5- Mengucapkan "subḥānallāh" ketika heran.
6- Bolehnya seseorang menceritakan sesuatu yang bisa membuat dirinya malu untuk suatu kepentingan.
7- Orang kafir najis, tetapi najisnya bersifat maknawi karena keburukan akidahnya.
8- Imam an-Nawawiy berkata, "Di dalam hadis ini juga terdapat pelajaran adab, yaitu apabila seorang alim (guru) melihat pada pengikutnya ada sesuatu yang dikhawatirkan menyelisihi kebenaran, maka hendaknya ia menanyakannya, kemudian menjelaskan hal yang benar serta menerangkan hukumnya. Wallāhu a'lam."
عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الأَنْصَارِيِّ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا أَتَيْتُمُ الغَائِطَ فَلاَ تَسْتَقْبِلُوا القِبْلَةَ، وَلاَ تَسْتَدْبِرُوهَا وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا» قَالَ أَبُو أَيُّوبَ: فَقَدِمْنَا الشَّأْمَ فَوَجَدْنَا مَرَاحِيضَ بُنِيَتْ قِبَلَ القِبْلَةِ فَنَنْحَرِفُ، وَنَسْتَغْفِرُ اللَّهَ تَعَالَى.
Abu Ayyūb Al-Anṣāriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Jika kalian ke tempat buang hajat, janganlah kalian menghadap kiblat maupun membelakanginya, tetapi menghadaplah ke arah timur atau barat." Abu Ayyūb berkata, "Ketika kami datang ke Syam, kami menemukan WC dibangun menghadap ke Ka'bah sehingga kami berpaling ke arah lain dan memohon ampun kepada Allah Ta'ala."
1- Hikmah dalam hal itu ialah mengagungkan dan menghormati Ka'bah al-Musyarrafah.
2- Beristigfar setelah keluar dari tempat buang hajat.
3- Kebaikan metode pengajaran Nabi ﷺ, yaitu ketika beliau menyebutkan hal yang dilarang, beliau juga mengarahkan pada hal yang dibolehkan.